Depresi

Depresi adalah gangguan mental yang setiap orang berpeluang mengalaminya. Banyak dari kita kebingungan untuk membedakan antara depresi, stress dan kesedihan. Belum lagi membedakan beberapa jenis dari depresi, misalnya unipolar depression, biological depression, manic depression, seasonal affective disorder, dysthymia, dan lainnya. Ada begitu banyak istilah yang digunakan untuk menggambarkan tentang depresi. Sekarang saatnya kita mengetahui apa itu depresi, dengan tujuan memudahkahkan seseorang atau diri anda ketika mengalami depresi.

1. Jenis – Jenis Depresi

Depresi Berdasarkan Tingkat Penyakit

Menurut klasifikasi organisasi kesehatan dunia “World Health Organization” (WHO) (dalam Lumongga, 2009), berdasarkan tingkat penyakitnya, depresi menjadi:

  1. Mild depression/minor depression dan dysthymic disorder. Pada depresi ringan, mood yang rendah datang dan pergi dan penyakit datang setelah kejadian stressfull yang spesifik. Individu akan merasa cemas dan juga tidak bersemangat. Perubahan gaya hidup biasanya dibutuhkan untuk mengurangi depersi jenis ini. Minor depression ditandai dengan adanya dua gejala pada depressive episode namun tidak lebih dari lima gejala depresi muncul selama dua minggu berturut-turut, dan gejala itu bukan karena pengaruh obatan-obatan atau penyakit. Bentuk depresi yang kurang parah disebut distimia (Dystymic disorder). Depresi ini menimbulkan gangguan Minor Depression ringan dalam jangka waktu yang lama sehingga seseorang tidak dapat bekerja optimal. Gejala depresi ringan ada gangguan distimia dirasakan minimal dalam jangka waktu dua tahun.
  2. Moderate Depression. Pada depresi sedang mood yang rendah berlangsung terus dan individu mengalami simtom fisik juga walaupun berbeda-beda tiap individu. Perubahan gaya hidup saja tidak cukup dan bantuan diperlukan untuk mengatasinya.
  3. Severe depression/major depression. Depresi berat adalah penyakit yang tingkat depresinya parah. Individu akan mengalami gangguan dalam kemampuan untuk bekerja, tidur, makan, dan menikmati hal yang menyenangkan dan penting untuk mendapatkan bantuan medis secepat mungkin. Deperesi ini dapat muncul sekali atau dua kali dan beberapa kali selama hdup. Major depression ditandai dengan adanya lima atau lebih simtom yang ditunjukan dalam major depressive episode dan berlangsung selama 2 minggu berturut-turut.

Depresi Berdasarkan Klasifikasi Nosologi

Kasifiasi nosologi dari keadaan depresi telah terbukti bernilai dalam praktik klinik dan telah dibakukan oleh World Health Organization (WHO). Menentukan suatu kasus depresi pada kategori nosologi yang tepat merupakan hal yang penting. Untuk mencapai hal itu diperlukan penilaian yang menyeluruh dari semua fakta yang diperoleh dari eksplorasi keadaan psikologisnya. Dan tidak kurang pentingnya adalah yang disebut miieu situation seperti hubungan penderita dengan lingkungan di mana dia tinggal dan ekerja (Lumongga, 2009).

Jenis-jenis depresi menurut World Health Organization (WHO) (dalam Lumongga, 2009), berdasarkan tingkat penyakitnya, dibagi menjadi depresi psikogenik, depresi endogenik dan depresi somatogenik.

Jenis-jenis depresi menurut WHO berdasarkan tingkat penyakit adalah di bawah ini:

Depresi Psikogenik

Depresi psikogenik terjadi karena pengaruh psikologis individu. Biasanya terjadi akibat adanya kejadian yang dapat membuat seseorang sedih atau stress berat.

Berdasarkan pada gejala dan tanda-tanda, terbagi menjadi:

  1. Depresi reaktif. Merupakan istilah yang digunakan untuk gangguan mood depresi yang ditandai oleh apati dan retardasi atau oleh kecemasan dan agtasi. Dan yang ditimbukan sebagai reaksi dari suatu pengalaman hidup yang menyedihkan. Dibandingan dengan kesedihan biasa, depresi ini lebih mendalam berlangsung lama tetapi jarang melampaui beberapa minggu.
  2. Exhaustion depression. Merupakan depresi yang ditimbulkan setelah bertahun-bertahun masa laten, akibat tekanan perasaan yang berlarutlarut, goncangan jiwa yang berturut atau pengalaman berulang yang menyakitkan.
  3. Depresi neurotic. Asal mulanya adalah konflik-konflik psikologis masa anak-anak (seperti keadaan perpisahan dengan ibu pada masa bayi, hubungan orang tua anak yang tidak menyenangkan) yang selama ini disimpan dan membekas dalam jiwa penderita. Proses represi baik yang sebagian maupun yang seluruhnya dari konfik-konflik tadi merupakan sumber kesulitan yang menetap dan potensial bagi timbulnya depresi di kemudian hari. Jauh sebelum timbulnya depresi sudah tampak adanya gejala-gejala kecemasan, tidak percaya diri, gagap, sering mimpi buruk, dan enuresis. Juga gejala jasmaniah seperti banyak berkeringat, gemetar, berdebar-debar, gangguan pencernaan seperti diare dan spasm

Depresi Endogenik

Depresi ini diturunkan, biasanya timbul tanpa didahului oleh masalah psikologis atau fisik tertentu, tetap bisa juga dicetuskan oleh trauma fisik maupun psikis, kebanyakan depresi endogen berupa suatu depresi unipolar.

Depresi Somatogenik

Pada depresi ini dianggap bahwa faktor-faktor jasmani berperan dalam timbulnya depresi, terbagi dalam beberapa tipe:

  1. Depresi organic. Disebabkan oleh perubahan perubahan morfologi dari otak seperti arteriosklerosis serebri, demensia senelis, tumor otak, defisiensi mental, dan lain-lain. Gejala-gejalanya dapat berupa kekosongan emosional disertai ide-ide hipokondrik. Biasanya disertai dengan suatu psychosyndrome akibat kelainan lokal atau difusi di otak dengan gejala kerusakan short term memory, disorientasi waktu, tempat, dan situasi disertai tingkah laku eksplosif dan mudah terharu.
  2. Depresi simptomatik. Merupakan depresi akibat atau bersamaan dengan penyakit jasmaniah seperti Penyakit infeksi (hepatitis, influenza, pneumonia), Penyakit endokrin (diabetes mellitus, hipotiroid), Akibat tindakan pembedahan, Pengobatan jangka panjang dengan obat-obatan antihipertensi, Pada fase penghentian kecanduan narkotika, alkohol dan obat penenang.

2. Penyebab Depresi

Secara garis besar, faktor-faktor penyebab depresi dibagi menjadi faktor fisik dan faktor psikologis. Di bawah ini akan dijelaskan secara rinci faktor-faktor penyebab depresi tersebut.

FAKTOR FISIK

Faktor fisik penyebab depresi terdiri dari:

Faktor Genetik

Seseorang yang dalam kelurganya diketahui menderita depresi berat memiliki risiko lebih besar menderita gangguan depresi daripada masyarakat pada umumnya. Gen (kode biologis yang diwariskan dari orang tua) berpengaruh dalam terjadinya depresi tetapi ada banyak gen di dalam tubuh kita dan tidak ada seorangpun peneliti yang mengetahui secara pasti bagaimana gen bekerja dan tidak ada bukti langsung bahwa penyakit depresi yang disebabkan oleh faktor keturunan (McKenzie, 1999).

Pengaruh gen lebih penting pada depresi berat daripada depersi ringan dan lebih penting pada indvidu muda yang menderita depresi daripada individu yang lebih tua. Gen lebih berpengaruh pada orang-orang yang punya periode di mana mood mereka tinggi dan mood rendah atau gangguan bipolar. Tidak semua orang biasa terkena depresi, bahkan ada depresi dalam keluarga, biasanya diperlukan suatu kejadian hidup yang memicu terjadinya depresi (Kendler, 1992).

Susunan Kimia Otak dan Tubuh

Beberapa bahan kimia di dalam otak dan tubuh memegang peranan yang besar dalam mengendalikan emosi kita. Pada orang depresi ditemukan adanya perubahan dalam jumlah bahan kimia tersebut. Hormon noradrenalin yang memegang peranan utama dalam mengendalikan otak dan aktivitas tubuh, tampaknya berkurang pada mereka yang mengalami depresi. Pada wanita, perubahan hormone dihubungkan dengan kelahiran anak dan menopause juga data meningkatkan risiko terjadinya depresi (McKenzie, 1999).

Faktor Usia

Berbagai penelitan mengungkapkan bahwa golongan usia muda yaitu remaja dan orang dewasa lebih banyak terkena depresi. Hal ini dapat terjadi karena pada usia tersebut terdapat tahaptahap serta tugas perkembangan yang penting, yaitu peralihan dari masa anak-anak ke masa remaja, remaja ke dewasa, masa sekolah ke masa kuliah atau bekerja, serta masa pubertas ke masa pernikahan. Namun sekarang ini usia rata-rata penderita depresi semakin menurun yang menunjukan bahwa remaja dan anak-anak semakin banyak yang terkena depresi. Survey masyarakat terakhir melaporkan prevalensi yang tinggi dari gejala-gejala depersi pada golongan usia dengan dewasa muda 18-44 tahun (Wikinson, 1995).

Gender

Adanya perubahan hormonal dalam siklus menstruasi yang berhubungan dengan kehamilan dan kelahiran dan juga menopause yang membuat wanita lebih rentan menjadi depresi. Penelitan Angold (1998) menunjukan bahwa periode meningkatkan risiko deresi pada wanita terjadi ketika masa pertengahan pubertas. Data yang dihimpun oleh World Bank menyebutkan prevalensi terjadinya depresi sekitar 30% terjadi pada wanita dan 12,6% dialami oleh pria (Desjarlis, 1995).

Radloff dan Rae (1979) berpendapat bahwa adanya perbedaan tingkat depresi pada pria dan wanita lebih ditentukan oleh factor biologis dan lingkungan, yaitu adanya perubahan peran sosial sehingga menimbulkan berbagai konflik serta membutuhkan penyesuaian diri yang lebih intens, adanya kondisi yang penuh stressor bagi kaum wanita, misalnya penghasilan dan tingkat pendidikan yang rendah dibandingkan pria, serta adanya perbedaan fisiolog dan hormonal disbanding pria, seperti masalah reproduksi serta berbagai perubahan hormone yang dialami wanita sesuai kodratnya. Lebih jauh lagi jumlah wanita tercatat mengalami depersi biasa juga disebabkan oleh pola komunikasinya.

Menurut Pease dan Pease (2001), pola komunikasi wanita berbeda dengan pria. Jika seorang wanita mendapatkan masalah, maka wanita tersebut ingin mengkomunikasikannya dengan orang lain dan memerlukan dukungan atau bantuan orang lain, sedangkan pria cenderung untuk memikirkan masalahnya, pria juga jarang menunjukan emosinya sehingga kasus depresi ringan dan sedang pada pria jarang diketahui

Gaya Hidup

Banyak kebiasaan dan gaya hidup tidak sehat berdampak pada penyakit misalnya penyakit jantung juga dapat memicu kecemasan dan depresi. Tingginya tingkat stress dan kecemasan digabung dengan makanan yang tidak sehat dan kebiasaan tidur serta olahraga untuk jangka waktu yang lama dapat menjadi faktor beberapa orang mengalami depresi (lumongga, 2009). Penelitian menunjukan bahwa kecemasan dan depresi berhubungan dengan gaya hidup yang tidak sehat pada pasien berisiko jantung. Gaya hidup yang tidak sehat misalnya tidur tidak teratur, makan tidak teratur, mengkonsumsi jenis makanan fast food atau makanan yang mengandung perasa, pengawet dan perwarna buatan, kurang berolahraga, merokok dan minum-minuman keras (Hendranata, 2004).

Penyakit fisik

Penyakit fisik dapat menyebabkan penyakit. Perasaan terkejut karena mengetahui kita memiliki penyakit serius dapat mengarahkan pada hilangnya kepercayaan diri dan penghargaan diri juga depresi, alasan terjadinya cukup kompleks (Ebrahim, 1987).

Obat-obatan

Beberapa obat-obatan untuk pengobatan dapat menyebabkan depersi. Namun bukan berarti obat tersebut menyebabkan depresi, dan menghentikan pengobatan dapat lebih berbahaya daripada depresi.

Menurut McKenzie (1999) ada beberapa obat yang menyebabkan depresi yaitu:

  1. Tablet antieplipsy
  2. Obat anti tekanan darah tinggi
  3. Obat antimalaria-melfloquine (lariam)
  4. Obat antiparkinson
  5. Obat kemotrapi
  6. Pil kontrasepsi
  7. Digitalis
  8. Diuretic (jantung dan tekanan darah tinggi)
  9. Interferon-alfa (hepatitis c)
  10. Obat penenang
  11. Terapi steroid

Obat-obatan terlarang

Obat-obatan terlarang telah terbukti dapat menyebabkan depresi karena mempengaruhi kimia dalam otak dan menimbukan ketergantungan. Menurut Brees (2008) di antara obatobatan terlarang yang menyebabkan depresi seperti mariyuana, heroin, kokain, ekstasi, sabu-sabu.

Kurang Cahaya Matahari

Kebanyakan orang merasa lebih baik di bawah sinar matahari daripada hari mendung, tetapi hal ini sangat berpengaruh pada beberapa individu. Mereka baik-baik saja ketika musim panas tetapi menjadi depresi ketika musim dingin. Mereka disebut menderita seasonal affective disorder (SAD). SAD berhubungan dengan tingkat hormon yang disebut melatonin yang dilepaskan dari kelenjar pineal ke otak. Pelepasannya sensitifnya terhadap cahaya yaitu memberikan cahaya sebesar 10.000 luc kadang-kadang efektif menghilangkan simtom dari seasonal affective disorder, empat jam terkena cahaya terang dalam sehari dapat mengurangi seresi dalam waktu seminggu (Ebrahim, 1987).

FAKTOR PSIKOLOGIS

Ada beberapa faktor psikologis penyebab depresi yaitu:

Kepribadian

Aspek-aspek kepribadian ikut mempengaruhi tinggi rendahnya depresi yang dialami serta kerentanan terhadap depresi. Ada indvidu-individu yang lebih rentan terhadap depresi yaitu mempunyai konsep diri serta pola pikir yang negatif, pesimis, juga tipe kepribadian introvert (Retnowati, 1990). Tampaknya ada hubungan antara karakteristik kepribadian tertentu dengan depresi.

Menurut Gordon (dalam Lumongga, 2009), seseorang yang menunjukan hal-hal berikut memiliki risiko terkena depresi:

  1. Mengalami kecemasan tingkat tinggi, seorang pencemas atau mudah terpengaruh
  2. Seorang pemalu atau minder
  3. Seseorang yang suka mengkritik diri sendiri atau memiliki harga diri yang rendah
  4. Seseorang yang hipersensitif
  5. Seseorang yang perfeksionis
  6. Seseorang dengan gaya memusatkan perhatian pada diri sendiri (self-focused).

Pola Pikir

Beck (1980) mengatakan gambaran pola pemikiran yang umum pada depresi dan dipercaya membuat seseorang rentan terkena depresi. Seseorang yang merasa negatif mengenai diri sendiri rentan terkena depresi.

Harga Diri (self-esteem)

Harga diri merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan perilaku individu. Setiap orang menginginkan penghargaan diri positif terhadap dirinya, sehingga seseorang akan merasa dirinya berguna atau berarti bagi orang lain meskipun dirinya memiliki kelemahan mental dan fisik. Terpenuhinya keperluan penghargaan diri aan menghasikan sikap dan rasa percaya diri, rasa kuat menghadapi sakit, rasa damai, namun sebaiknya apabila keperluan penghargaan diri ini tidak terpenuhi, maka akan membuat seseorang individu mempunyai mentalmental lemah dan berpikir negatif sehingga cenderung terkena depresi (Maslow dalam Petri, 2004).

Stres

Kematian orang dicintai, kehilangan pekerjaan, pindah rumah, atau stress berat yang lain dianggap dapat menyebabkan depresi (lumongga, 2009). Orang yang depresi dapat merasa sangat negative dan cenderung mengingat dan melaporkan halhal negativ begitu pula dampak suatu peristiwa terhadap seseorang sulit diramalkan, beberapa orang lebih mampu menanggulangi stress daripada yang lain dan apa yang membuat stress seseorang belum tentu menganggu yang lain (Mckenzie, 1999).

Lingkungan Keluarga

Ada beberapa penyebabnya yaitu:

  1. Kehilangan orang tua ketika masih anak-anak. Ada bukti bahwa indivdu yang kehilangan ibu mereka ketika muda memiliki risiko lebih besar terserang depresi. Kehilangan yang besar ini akan membekas secara psikologis dan membuat seseorang lebih mudah terserang depresi tetapi, di satu sisi, mungkn saja membuat orang lebih tabah. Akibat psikologis, sosial, dan keuangan yang ditimbulkan oleh kehilangan orang tua yang lebih penting daripada kehilangan itu sendiri (Lumongga, 2009).
  2. Jenis Pengasuhan. Psikolog menemukan bahwa orang tua yang sangat menuntut dan kritis, yang menghargai kesuksesan dan menolak semua kegagalan membuat anak-anak lebih mudah terserang depresi di masa depan (Lumongga,2009).
  3. Penyiksaan fisik dan seksual Ketika kecil. Penyiksaan fisik atau seksual dapat membuat seseorang berisiko terserang depresi berat sewaktu dewasa (Lumongga, 2009).

Penyakit Jangka Panjang

Ketidaknyamanan, ketidakmampuan, ketergantungan, dan ketidakamanan dapat membuat seseorang cenderung menjadi depresi. Kebanyakan orang suka bertemu orang. Orang yang sakit keras menjadi rentan terhadap depresi saat mereka dipaksa dalam posisi di mana mereka tidak berdaya atau karena energi yang mereka perlukan untuk melawan depresi sudah habis untuk penyakit jangka panjang (Lumongga, 2009).

3. Dampak Depresi

Bunuh Diri

Walaupun banyak orang yang depresi yang tidak bunuh diri, depresi yang tidak ditangani dapat meningkatkan resiko percobaan bunuh diri. Sangat sering bagi individu yang mengalami depresi memiliki pikiran untuk bunuh diri (Lumongga, 2009).

Gangguan Tidur : Insomnia dan Hypersomnia

Insomnia atau kesulitan tidur bukanlah suatu penyakit, insomnia adalah cara tubuh bereaksi terhadap stress, jumlah waktu tidur yang dibutuhkan oleh tiap orang berbedabeda, kebanyakan orang dewasa memerlukan tidur delapan jam setiap malam, jika kita tidak mendapatkan cukup tidur, kita akan merasa mengantuk di siang harinya. Pola tidur berubah sesuai dengan usia, misalnya, orang yang lebih tua tidur siang dan lebih sedikit di malam hari (Kusumawardhani, 2006)

Gangguan dalam Hubungan

Sebagai akibat dari depresi, seseorang cenderung mudah tersinggung, senantiasa sedih sehingga lebih banyak menjauhkan diri dari orang lain atau dalam situasi lain menyalahkan orang lain, hal ini menyebabkan hubungan dengan orang lain menjadi tidak baik (Lumongga, 2009).

Gangguan dalam Pekerjaan

Pengaruh depresi sangat terasa dalam kehidupan pekerjaan seseorang. Depresi meningkatkan kemungkinan dipecat dan pendapatan yang lebih rendah. Depresi mengakibatkan kerugian dalam produksi karena absenteisme ataupun performa yang sangat buruk. Pekerja dengan depresi juga kehilangan lebih banyak waktu karena kesehatan yang buruk daripada pekerja yang tidak mengalami depresi (Lumongga, 2009).

Gangguan Pola Makan

Depresi dapat menyebabkan gangguan pola makan dan gangguan pola makan dapat menyebabkan depresi, pada orang yang menderita depresi terdapat dua kecenderungan umum mengenai pola makan yang secara nyata mempengaruhi berat tubuh badan yaitu, tidak selera makan dan keinginan makan-makanan yang manis bertambah. Beberapa gangguan pola makan yang diakibatkan oleh depresi adalah bulimia nervosa, anoreksia nervosa dan obesitas (Kusumawardhani, 2006).

Perilaku-perilaku Merusak

Beberapa perilaku yang merusak yang disebabkan oleh depresi menurut Lumongga (2009) adalah:

  1. Agresivitas dan kekerasan. Pada individu yang terkena depresi perilaku yang ditimbulkan bukan hanya berbentuk kesedihan, namun bisa juga dalam bentuk mudah tersinggung dan agresif. Perilaku agresif lebih cenderung ditunjukan oleh individu pria yang mengalami depresi. Hal ini karena pengaruh hormon estrogen dan progesteron yang mempengaruhi perilaku, testosterone mempengaruhi perilaku pria. Perilaku menjadi berbahaya dan dapat berakibat melukai orang yang dicintai, dan juga diri sendiri. Pada kasus yang ekstrem, agresi yang meningkat dapat menyebabkan tindak pembunuhan. Namun walaupun lebih banyak agresivitas oleh pria, wanita yang serius, misalnya merusak barang-barang bahkan melukai dan membunuh anaknya sendiri.
  2. Penggunaan Alkohol dan Obat-obatan Terlarang. Telah diketahui bahwa penggunaan alkohol dan obatobatan terlarang pada remaja selain karena pengaruh teman kelompok, motivasi dari diri individu untuk menggunakan alkohol dan obatobatan terlarang dapat disebakan oleh keadaan depresi sebagai cara untuk mencari pelepasan sementara keadaan yang tidak menyenangkan.
  3. Perilaku Merokok. Penelitian menunjukan bahwa ada hubungan antara emosi negative yang ditimbulkan oleh depresi dengan frekuensi merokok. Seseorang yang mengalami depresi merokok lebih banyak dari biasanya. Telah diketahui bahwa beberapa zat kimia dari rokok dapat meredakan stress untuk sementara sehingga merokok bagi beberapa orang dianggap dapat menanggulangi stress.

4. Penanggulangan Depresi

Cara Cegah Depresi.

1. Miliki pola hidup yang teratur.
2. Pola makan teratur, jangan terlalu banyak karbohidrat, lemak, dan zat yang dapat mengganggu
Neurotransmitter.
3. Mengenali tanda-tanda depresi sejak dini.
4. Belajar mengenali masalah secara objektif, berpikir positif dan melihat masalah dari aspek yang sehat.

Penanganan Depresi.
Penanganan depresi dibagi dua : terapi psikososial dan terapi biologi melalui pemberian obat.
Pemberian obat anti depresan berfungsi untuk meningkatkan atau mengatur kembali serotonin
dan norepinefrin agar seimbang. Biasanya obat bersifat serotonergik dan noradrenergik yang artinya
meningkatkan serotonin atau norepinefrin ataupun keduanya.
Ada beberapa obat antidepresan misalnya golongan serotonin selective re-uptake inhibitor (SSRI).

Pendekatan lain adalah terapi psikososial melalui konseling psikologi dan psikoterapi.
Psikoterapi yang paling cocok untuk penderita depresi adalah Cognitive behavior therapy (CBT),
yaitu terapi yang mengajak penderita untuk mempelajari bagaimana mencerna atau mempersepsikan
peristiwa kehidupannya. Mulai dari persepsi yang tidak rasional/negatif dibawa ke persepsi yang

rasional/positif.

Pada depresi ringan, pengobatan cukup dilakukan dengan pendekatan psikososial misalnya
konseling, psikoterapi dan CBT.
Depresi sedang atau berat selain terapi psikososial juga harus diberikan obat, bahkan ditambah dengan
Electro Shock Therapy (EST), yaitu terapi elektro kompulsif atau sering disebut terapi kejang listrik.
Penderita diberikan kejang listrik dikepala yang akan menimbulkan respon kejang untuk perubahan
neurokimia diotaknya sehingga menimbulkan regulasi neurokimia.

Depresi dapat dipulihkan atau dikontrol.
Pola hidup yang salah dapat memicu timbulnya depresi.
Untuk depresi kambuhan ,obat diberikan sampai 6 bulan, setelah itu dihentikan.
Dan untuk penderita yang sering kambuh biasanya obat diberikan 1-2 tahun.
Secara umum pengobatan depresi minimal 6 bulan.
Jika cuma 2 minggu atau 2 bulan hanya akan menimbulkan efek penyembuhan sementara
atau hanya menekan gejala.
Obat-obat anti depresan baru bermanfaat setelah pemakaian minimal 2 minggu-1 bulan.

Secara Umum efek samping obat anti depresan adalah :

-Mual
-Muntah
-Mengantuk
-Insomnia
-Sakit kepala
-Berkeringat
-Penambahan berat badan
-Konstipasi
-Mulut kering
-Tremor
-Disfungsi seksual
-Nyeri otot
-Kemeraha

 

Sumber :

1. http://id.shvoong.com/medicine-and-health/investigative-medicine/2059120-penanganan-depresi/#ixzz2XHvFoz9j

2. http://www.psychologymania.com/2012/08/dampak-depresi.html

3. http://www.psychologymania.com/2012/08/faktor-penyebab-depresi.html

4. http://www.psychologymania.com/2012/08/jenis-jenis-depresi.html

5. http://www.duniapsikologi.com/depresi-pengertian-penyebab-dan-gejalanya/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s