Menurunnya keadilan di Indonesia

Keadilan ada hubungannya dengan Prasangka, diskriminasi dan Etnosentrisme, karena Prasangka berarti membuat keputusan sebelum mengetahui fakta yang relevan mengenai objek tersebut.  Dengan ini orang bisa  dituduh bersalah padahal dia tidak melakukan kesalahan, misalnya kita di tuduh korupsi  dalam suatu perusaahaan padahal kita tidak melakukan hal apapun, tetapi karena kita hanya tau peristiwa itu kita jadi ikut bersalah.

Sedangkan Diskriminasi merujuk kepada pelayanan yang tidak adil terhadap individu tertentu, di mana layanan ini dibuat berdasarkan karakteristik yang diwakili oleh individu tersebut. Diskriminasi merupakan suatu kejadian yang biasa dijumpai dalam masyarakat manusia, ini disebabkan karena kecenderungan manusian untuk membeda-bedakan yang lain. Pada orang yang di diskriminasi akan merasa ketidakadilan karena dia akan dibeda bedakan dengan yang lain.

Kemudian etnosentrisme adalah sikap yang menggunakan pandangan dan cara hidup dari sudut pandangnya sebagai tolok ukur untuk menilai kelompok lain. Ini bisa terjadi pada antar ras, suku dan kelompok.  Sikap etnosentrisme bisa memicu konfilk antar kelompok karena menggangap bahwa kelompok dia paling hebat dari kelompok lain. Bisa juga kelompok lain di intimidasi dari kelompok yang punya kedudukan lebih tinggi pada daerah tsb.

Bagaimana  dengan keadilan di Indonesia ? seperinya banyak pendapat negative tentang keadilan di Indonesia, karena banyak fakta yang terjadi demikian. Banyak sekali kasus terjadi dan penyelesaiannya pun masih sangat jauh dari harapan kehidupan bangsa di negara hukum ini.

Banyak kasus yang marak terjadi karena tidak adanya keadilan hukum. Tentu kita jelas mengetahui tentang berbagai kasus korupsi di negara kita. Untuk mengatasi hal ini saja pemerintah tidak gesit untuk menyelesaikannya, dan bahkan belum ada yang terselesaikan secara murni. Mungkin saya bukanlah orang yang terlalu tahu dan mengerti akan hukum. Tidak seharusnya pula saya menjudge dan memiliki persepsi buruk tentang hukum dan penegak hukum di negara kita. Tapi untuk fakta-fakta yang terjadi dan sudah jelas terlihat.  Kita hidup di negara hukum tapi pelaksanaan, keutuhan dan keadilan hukum tidak berjalan sesuai dengan semestinya.

Lebih ironis lagi ketika kita mendengar kasus pelanggaran yang di lakukan oleh rakyat kecil, ia harus mendapatkan hukuman, di sisi lain banyak sekali koruptor yang jelas-jalas mengambil uang dan hak rakyat tetapi susah sekali untuk di hukum, di pikirin dulu, di pertimbangkan dulu, di lama-lamain, dan berbagai penyelesaian bertele-tele tapi berujung tetap merajalela para koruptor tersebut.

Untuk menegakan keadilan yang seadil-adilnya, perlu mulai dari diri sendiri untuk tidak melanggar aturan hukum. Kita lakukan semestinya peran kita sebagai generasi muda, sampai nanti kita sendiri yang akan membenahi negara kita dengan HUKUM yang baik dan benar-benar ditegakkan. Diharapkan pula bagi para petinggi negara untuk tidak memikirkan diri sendiri dan dapat merasakan apa yang dirasakan oleh warga yang masih memerlukan bantuan.

Sumber :

http://ifashab.blogspot.com/2012/04/gambaran-keadilan-hukum-di-indonesia.html

http://rikimaulana23.blogspot.com/2013/01/prasangka-diskriminasi-dan.html

Terbatasnya sumber Informasi di daerah perbatasan

Informasi adalah segala hal yang dapat digunakan oleh seseorang sehingga mengetahui tentang hal yang baru,dan mempunyai ciri-ciri yaitu, dapat dilihat, dibaca dan dipelajari, diteliti, dikaji dan dianalisis  dimanfaatkan dan dikembangkan didalam kegiatan-kegiatan pendidikan, penelitian, laboratorium, ditransformasikan kepada orang lain.

Minimnya infrastuktur pendukung seperti transportasi dan komunikasi juga perlu mendapatkan perhatian. Di wilayah perbatasan jarang ditemukan alat transportasi dan komunikasi yang memadai untuk membantu akses masyarakatnya menuju dearah lain untuk mencari kebutuhan hidup. Media informasi yang ada juga sangat terbatas sehingga tidak bisa dipungkiri masyarakat di wilayah perbatasan menjadi buta akan teknologi dan informasi. Keaadaan yang kurang layak ini menjadikan masyarakat wilayah perbatasan menjadi terbelakang dan sulit berkembang seperti masyarakat-masyarakat perkotaan pada umumnya.
Tidak hanya masalah infrastruktur dan fasilitas yang perlu ditinjau kembali. Kita ketahui bersama masyarakat wilayah perbatasan laut hidup berdampingan dengan sumber daya alam yang begitu melimpah ruah. Namun tidak adanya pengetahuan dan kemampuan menjadikan produktifitas masyarakat pebatasan sangatlah tidak optimal.

Semua permasalahan yang berkaitan dengan pembangunan wilayah perbatasan ini merupakan kunci pokok yang menimbulkan kesenjangan sosial pada masyarakat wilayah perbatasan. Jika dicerna dan diruntut kembali masalah yang telah dijabarkan di atas adalah salah satu faktor utama yang menyebabkan timbulnya kemiskinan di kalangan masyarakat wilayah perbatasan.

dengan itu untuk daerah perbatasan sarana dan prasarana komunikasi sangat diperlukan untuk memperoleh informasi dan berkomunikasi. Baik itu dari pusat ke daerah maupun antar daerah, khususnya pada daerah terpencil maupun perbatasan yang minim sarana komunikasi.

Pengembangan sistem Komunikasi, sangat diperlukan pada daerah-daerah perbatasan yang belum terjangkau. Akan tetapi jika dapat memperoleh atau mengakses informasi dan komunikasi dapat meningkatkan kesejahteraan di tiap-tiap daerah perbatasan.

Dengan adanya sarana komunikasi dengan menggunakan satelit atau yang lainnya diharapkan dapat mampu mendukung pengembangan dan peningkatan kelancaran arus informasi secara cepat dan akurat.

Karena akses informasi akan menjadi lebih terbuka dan masyarakat di kecamatan-kecamatan akan lebih mudah mengakses informasi. Khususnya bagi pelajar dalam mengakses mata pelajaran melalui internet.

Sumber :

http://dadangdaelimi.wordpress.com/2013/01/14/ilmu-pengetahuan-teknologi-dan-kemiskinan/

http://gekelagege.blogspot.com/2012/12/masyarakat-perbatasan-bagaikan-anak-tiri.html

http://www.kalimantan-news.com/berita.php?idb=13446

Masalah Rasis yang tidak pernah hilang

Rasisme memiliki arti suatu sistem kepercayaan atau doktrin yang menyatakan bahwa perbedaan biologis yang melekat pada ras manusia menentukan pencapaian budaya atau individu, bahwa suatu ras tertentu lebih superior dan memiliki hak untuk mengatur yang lainnya.

Rasisme berdiri tidak hanya dalam barisan yang kuat, akan tetapi rasisme juga tertanam dalam kaum yang lemah. Jika yang kuat menindas yang lemah karena mereka memiliki basis kekuasaan maka yang lemah akan melakukan perlawanan secara diam-diam. Jadi jelaslah bahwa  rasisme ada di antara kita.

Di Indonesia masih ada pada sebagian masyarakat di Negara kita yang berperilaku rasis, meskipun tindakan rasis yang ditujukan bukan pada warna kulitnya, namun lebih kepada penghinaan terhadap daerah asal, silsilah, nama maupun status sosial.

Contoh paling sahih adalah kata “kampungan” yang sering kita dengar di sinetron televisi. Kata kampungan disini berarti penghinaan terhadap orang desa, dan dianggap tidak memiliki norma kehidupan standar perkotaan. Sebagai orang yang lahir, tumbuh, besar, dan mencari penghidupan di desa tentu saya sangat miris dan tersayat hatinya bila mendengar kata tersebut disebutkan dalam adegan sinetron. Walaupun itu hanya adegan dalam sebuah sinetron tapi pengaruh kata “kampungan” yang ditimbulkan televisi sangat luas dan bisa mempengaruhi perkembangan anak khususnya anak di pedesaan. Mereka akan berada dalam situasi minder dan tidak memiliki kepercayaan diri sehingga ‘nrimo’ saja dengan keadaan dan cap kampungan yang sudah terlanjur melekat seperti dalam adegan sinetron. Pengaruh buruk juga bisa terjadi untuk anak di perkotaan, bagaimana mereka tidak akan memiliki kepekaan terhadap sesama dan lingkungan sekitarnya karena beranggapan lebih superior dibandingkan dengan anak di pedesaan. Tentu akan seperti apa generasi mereka ketika telah dewasa.

Isu rasisme juga berdampak kepada eksklusi sosial kepada orang atau kelompok tertentu. Dimana orang atau kelompok tertentu tersebut menjadi terbatas aksesnya akibat isu rasisme. Sehingga bisa dikatakan bahwa isu rasisme hanya akan menjadi hal yang serius jikalau telah membatasi akses seseorang atau kelompok tertentu.

Menurut pendapat saya isu rasisme itu sangat memperhatinkan karena sudah meresahkan. Padahal jelas bahwa pada tiap agama mengajarkan tentang bagaimana hidup yang rukun, dan sudah jelas pula bahwa diceritakan bagaimana asal-usul manusia diciptakan oleh Tuhan semua manusia di dunia adalah bersaudara.

sumber :

http://olahragapendidikan.blogspot.com/2011/04/rasisme-perilaku-rasis.html

http://rorophei.blogspot.com/2013/07/rasisme-di-indonesia.html

http://ariefdotcom.blogspot.com/2013/02/contoh-rasisme-yang-ada-dalam-kehidupan.html